Syafita Maulidya, Mahasiswa S2 PLB Unesa, Lulus 3 Semester Tahun 2025 dengan Riset tentang Fungsi Eksekutif Disleksia
Program Studi S2 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali mencatat prestasi akademik membanggakan. Syafita Maulidya, mahasiswa S2 PLB Unesa, berhasil menyelesaikan studi magister hanya dalam waktu tiga semester dan dinyatakan lulus pada tahun 2025 melalui penelitian yang mengangkat isu penting dalam pendidikan inklusif, khususnya disabilitas disleksia.
Penelitian yang disusun berjudul “Persepsi Calon Guru tentang Fungsi Eksekutif Disabilitas Disleksia di Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Negeri Malang.” Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa S1 PLB di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Malang (UM). Pemilihan dua universitas tersebut didasarkan pada perbedaan struktur penjurusan, di mana Unesa memiliki penjurusan ketunaan, termasuk peminatan Anak Kesulitan Belajar (AKB), sedangkan UM bersifat lebih general tanpa penjurusan spesifik.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan pemahaman calon guru terkait fungsi eksekutif serta kemampuan mereka dalam menyusun strategi pembelajaran bagi anak disleksia. Pemahaman terhadap fungsi eksekutif, seperti memori kerja, perhatian, pengendalian diri, dan perencanaan, dinilai penting karena akan berpengaruh langsung terhadap performa mengajar calon guru di kelas inklusif.
Metode yang digunakan adalah mix method, dengan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran angket yang diperkuat oleh pendekatan kualitatif melalui wawancara pada subjek terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan peminatan AKB memiliki tingkat pemahaman dan pengetahuan strategi pembelajaran yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa tanpa peminatan AKB. Hal ini terlihat dari kemampuan mereka dalam menjelaskan konsep fungsi eksekutif dan keterkaitannya dengan kesulitan membaca pada siswa disleksia.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pemahaman sebagian mahasiswa mengenai disleksia masih berada pada tahap awal, dipengaruhi oleh keterbatasan mata kuliah yang bersifat teoretis dan kurang terikat dengan praktik lapangan. Perbedaan struktur kurikulum terbukti memengaruhi kesiapan calon guru, di mana mahasiswa dengan peminatan AKB menunjukkan kesiapan yang lebih positif. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan pemahaman awal tentang disleksia sebagai dasar membangun persepsi dan kesiapan calon guru dalam pendidikan inklusif.