Pendekatan multisensori menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif dalam membantu anak dengan kesulitan belajar memahami materi secara lebih optimal. Pendekatan ini mengintegrasikan berbagai indera—visual, auditori, kinestetik, dan taktil—dalam proses pembelajaran sehingga informasi dapat diterima dan diproses melalui berbagai jalur sensorik.
Anak dengan kesulitan belajar sering mengalami hambatan dalam membaca, menulis, berhitung, maupun memahami instruksi verbal. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan cara otak memproses informasi. Oleh karena itu, penggunaan satu metode pengajaran saja seringkali kurang efektif. Pendidik perlu mengombinasikan berbagai stimulus sensorik agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret dan mudah dipahami.
Pendekatan multisensori diterapkan melalui berbagai kegiatan, seperti penggunaan kartu bergambar, media manipulatif, huruf timbul, permainan gerak, lagu pembelajaran, serta kegiatan menulis menggunakan bahan bertekstur. Misalnya, dalam pembelajaran membaca, siswa dapat melihat huruf (visual), mendengar bunyi huruf (auditori), menelusuri bentuk huruf dengan jari (taktil), dan menuliskannya di udara atau pasir (kinestetik). Aktivitas terpadu ini membantu memperkuat memori dan meningkatkan pemahaman konsep.
Strategi multisensori juga berperan dalam meningkatkan konsentrasi dan motivasi belajar. Pembelajaran yang melibatkan gerakan dan pengalaman langsung cenderung membuat siswa lebih aktif dan terlibat, sehingga mengurangi kejenuhan dan kecemasan belajar. Selain itu, pendekatan ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai gaya belajar dominan mereka.
Dalam konteks Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan pendidikan inklusif, pendekatan multisensori sangat relevan karena mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan belajar. Guru dapat menyesuaikan aktivitas pembelajaran berdasarkan kemampuan dan respons siswa, sehingga tercipta lingkungan belajar yang ramah dan adaptif. Pendekatan ini juga mendukung perkembangan keterampilan motorik, bahasa, serta kemampuan kognitif secara terpadu.
Ke depan, penerapan pendekatan multisensori diharapkan semakin luas digunakan di sekolah inklusif dan layanan pendidikan khusus. Dengan memanfaatkan berbagai pengalaman sensorik dalam pembelajaran, siswa dengan kesulitan belajar dapat memperoleh kesempatan yang lebih adil untuk memahami materi, meningkatkan kepercayaan diri, dan mencapai perkembangan akademik maupun fungsional secara optimal.