Hari ke 5: PLB UNESA Dalami Praktik Pendidikan dan Terapi EEG melalui Kunjungan Akademik ke Tadika Merrychild dan MDC Malaysia
KUALA LUMPUR — Pada hari kelima rangkaian program akademik di Malaysia, mahasiswa Magister (S2) Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya (UNESA), bersama para dosen pendamping, melaksanakan kunjungan ke Tadika Merrychild. Rombongan disambut hangat oleh Owner Tadika Merrychild sekaligus CEO MDC, Dr. Wong Huey Ling, yang dengan antusias membuka ruang diskusi dan observasi bagi para mahasiswa.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Wong memperkenalkan lingkungan belajar Tadika Merrychild yang menerapkan konsep kelas inklusi bagi anak usia dini. Ia menunjukkan secara langsung proses pembelajaran yang ramah terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik, termasuk beberapa murid dengan autisme. Para mahasiswa juga diberi kesempatan menyaksikan bagaimana terapi EEG diterapkan pada anak-anak tersebut setelah sesi belajar-mengajar selesai, sehingga mereka dapat memahami hubungan antara kondisi neurofisiologis dan perilaku sehari-hari.
Kunjungan kemudian berlanjut ke MDC, tempat Dr. Wong memimpin berbagai layanan pendidikan dan terapi bagi anak berkebutuhan khusus. Mahasiswa diajak berkeliling area pembelajaran dan ruang terapi untuk melihat lebih dekat bagaimana intervensi dilakukan secara terstruktur. Dr. Wong menjelaskan bahwa kombinasi antara terapi EEG dan Applied Behavior Analysis (ABA) merupakan pendekatan yang penting untuk mengoptimalkan perkembangan anak. Menurutnya, pemetaan awal melalui EEG membantu pendidik dan terapis memahami kondisi otak anak sebelum memberikan intervensi perilaku.
Selama sesi materi, Dr. Wong memaparkan sejumlah poin penting terkait manfaat terapi EEG dalam mengidentifikasi pola gelombang otak, tingkat perhatian, stres, relaksasi, dan respons anak terhadap stimulus tertentu. Ia juga menampilkan beberapa video pembanding yang menggambarkan perubahan perilaku anak sebelum dan sesudah menjalani terapi EEG. Penyajian tersebut membuka wawasan baru bagi mahasiswa mengenai efektivitas pendekatan berbasis neurosains dalam pendidikan khusus.
Sebagai penutup kunjungan, dilakukan prosesi penyerahan cinderamata hasil karya Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) oleh Dr. Asri Wijiastuti, M.Pd., selaku Koordinator Program Studi S2 PLB UNESA, kepada Dr. Wong. Penyerahan ini menjadi simbol apresiasi sekaligus wujud komitmen terhadap pengembangan kolaborasi pendidikan khusus antara UNESA dan MDC Malaysia.
Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa untuk memahami praktik pendidikan inklusif dan terapi neurosains secara lebih mendalam. Selain memperluas wawasan akademik, kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi kerja sama lanjutan dalam bidang penelitian, pelatihan, serta pengembangan layanan bagi anak berkebutuhan khusus.