Pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) dalam dunia pendidikan terus berkembang sebagai solusi pembelajaran inovatif dan inklusif. Arista Widyawati, mahasiswa Program RPL, mengembangkan media pembelajaran keterampilan berbicara berbasis Augmented Reality dengan metode Komunikasi Total bagi peserta didik disabilitas rungu tingkat sekolah dasar. Inovasi tersebut menjadi fokus dalam tesisnya yang berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Keterampilan Berbicara Berbasis Augmented Reality dengan Metode Komunikasi Total bagi Disabilitas Rungu.”
Media pembelajaran yang dikembangkan berupa aplikasi berbasis Android yang dirancang khusus untuk membantu meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik tunarungu. Aplikasi ini memanfaatkan teknologi AR dengan menampilkan objek hewan peliharaan dan hewan liar dalam bentuk animasi tiga dimensi. Objek tersebut muncul melalui proses pemindaian kartu bergambar, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang interaktif dan menarik bagi peserta didik.
Keunggulan media ini terletak pada penerapan metode Komunikasi Total yang mengombinasikan berbagai unsur komunikasi. Setiap objek AR dilengkapi dengan teks, suara pelafalan, gerakan bibir, serta unsur isyarat. Pendekatan multisensorik ini dirancang untuk membantu peserta didik disabilitas rungu memahami kosakata sekaligus melatih artikulasi secara bertahap dan bermakna.
Pengembangan media pembelajaran ini menggunakan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Proses pengembangan dilakukan secara sistematis untuk memastikan kesesuaian media dengan karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik tunarungu. Media yang dihasilkan kemudian diuji kevalidan, kepraktisan, dan keefektifannya melalui penilaian para ahli, praktisi pendidikan, serta penerapan langsung dalam pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis Augmented Reality ini dinyatakan layak dan praktis digunakan. Selain itu, media terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara peserta didik disabilitas rungu, khususnya pada aspek penguasaan kosakata dasar dan artikulasi. Peserta didik terlihat lebih tertarik dan aktif dalam proses pembelajaran karena adanya visual 3D yang realistis dan dukungan berbagai unsur komunikasi.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif media pembelajaran di sekolah luar biasa, sekaligus mendukung guru dalam menciptakan pembelajaran berbicara yang lebih interaktif, adaptif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Pengembangan media berbasis AR ini menunjukkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusif bagi peserta didik disabilitas rungu.